kau dan Warna
Cerpen ini mengisahkan seorang pemuda yang melakukan KKN di sebuah desa di daerah terpencil.
Hallo namaku Ahmad saya seorang mahasiswa KKN dari sebuah universitas yang ada di NTT.
Cerita berawal mula ketika aku turun kedesa untuk melakukan kegiatan kerja kuliah Nyata (KKN) saya menumpang kendaraan untuk menuju desa tersebut dengan lama waktu sekitar dua jam. Sesampainya di sana aku bertemu dengan seseorang di balai desa yang ternyata orang tersebut adalah pucuk pimpinan dari desa tersebut ( kepala Desa).
Hallo pak! Sapaku
Hallo..... Jawabnya
Saya Ahmad pak... Mahasiswa KKN dari universitas Mulawarman dan pada saat ini saya mau ketemu dengan pucuk pimpinan dari Desa ini
Oh..... Saya Ande kebetulan saya sebagai pimpinan dari desa ini.
Ohhhh mohon maaf pak saya tadi sangat lancang sekali ..
Tidak apa-apa Ahmad sante saja la. Jawabnya
Terus kamu sendiri saja yang data ko PU teman-teman mana? Lanjutnya
Itu tadi bapa sa pu teman- teman masih di kampus dan saya yang duluan untuk mengunjungi desa ini. Jawab Ahmad.
Baiklah sudah saya panggilkan sekertaris untuk mengantarkan Ahmad pada tempat penginapan.
Andre ....
Iya bapa jawab Andre
Sini dulu kenalin ini Ahmad mahasiswa KKN di desa kita
Ohhh halo saya Andre sekertaris dari bapa Desa. Ucapan andre
Halo saya Ahmad. Jawab Ahmad
Tolong ko antar ini Ahmad ketempat penginapan. Perintah Bapa desa
Baik bapa jawab Andre
Mari !! Ajak Andre kepada Ahmad
................
Mereka berduapun berjalan menuju tempat penginapan
Sesampainya di sana Andre mengajak Ahmad untuk memasuki ruang penginapan tersebut
Mari! Silahkan masuk mohon maaf eeee saya belum bereskan tempat penginapannya. Ujar Andre
Tidak apa-apa..... Sante saja. Jawab Ahmad.
Andre kemudian meninggalkan Ahmad
Kalau begitu sa pamit pulang permisi..
Baiklah hati-hati
Ahmadpun masuk keruang penginapan tersebut yang terbuat dari alang-alang bambu dan merapikan tempat penginapan tersebut.
Keesokan harinya pagi-pagi Ahmad bangun dan lari disekitar desa tersebut pemandangan yang begitu indah dan eksotis dengan langkah yang penuh kebahagiaan Ahmad menaiki sebuah bukit disana dia melihat dua orang gadis yang sedang mengajarkan anak-anak yang ada di desa tersebut. Dengan perlahan-lahan Ahmad mendekati mereka dan duduk disamping anak-anak tersebut disini dia bertemu dengan gadis cantik yang sedang mengajarkan anak-anak desa entah mengapa Ahmad merasa tertarik dan mempunyai niat untuk mengenalinya.
Hallo..... Sapa Ahmad
Entah mengapa perempuan itu menjawab kamu. Ahmad kan mahasiswa KKN didesa kita
Ahmad merasa aneh kok kamu tau?
Orang desa yang menceritakan kepada saya. Jawabnya
Oooooo ... Terus nama kamu siapa? Tanya Ahmad
Saya Astuti guru sukarela didesa ini.
Saya tau....... Jawab Ahmad
Tau dari mana? Tanya Astuti
Orang desa menceritakan kepada saya. Jawab Ahmad
Mereka berduapun saling beradu pandang sepertinya didalam hati mereka memiliki perasaan yang sama.
Kemudian dengan penuh keberanian Ahmad berkata boleh aku meminta nomomu
Astuti menjawab saya tidak punya nomor sa hanya ada nomor hp.
Ahmad merasa sedikit Malu dan berkata maksudnya minta ko Pu nomor hp
OOO boleh kamu simpan 081 237 709 911
Baiklah terimakasih. Ucapa Ahmad.
Kalau begitu saya duluan eee
Ahmad pun meninggalkan Astuti dan peserta didiknya.
.............................................................
Tak terasa Ahmad sudah mencapai hari ketiga di tempat KKNnya
Diapun bersama bapa desa dan sekertaris desa mengunjungi wilayah desa untuk melakukan observasi dan secara tidak sengaja Astuti melewati tempat tersebut
Ahmad memandang Astuti dengan pandangan yang tajam hingga akhirnya dia di kagetkan oleh Andre
Kamu melihat apa itu namanya Astuti seorang guru sukarela disesa ini dia tamat SMA dan tidak diperbolehkan lanjut kuliah oleh Ayahnya.
Saya tau!, Sa su kenal dia dari kemarin. Kalau boleh tau mengapa dia punya bapa tidak memperbolehkan Astuti untuk kuliah. tanya Ahmad.
Bapanya tidak memperbolehkan anak perempuan untuk kuliah dia bilang itu anak perempuan itu kerjanya di dapur.
Sadis banget dia pu bapa tu. Ujar Andre
Ehhh... Tapi kamu jangan melirik sebab dia pu bapa itu menjodohkan Astuti dengan bapa desa. Jelas Andre
Tidak apa-apalah sante sa saya hanya penasaran saja. Kalau begitu kita lanjut observasinya
Baiklah ...... Jawab Andre.
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan mereka Andre melihat bapa desa menghampiri Astuti yang sedang menceritakan sesuatu.
Bapa desa Astuti kapan kita bisa jalan-Jalan
Dengan perasaan cemberut Astuti menjawab untuk apa
Untuk membicarakan pertunangan kita
Pertunangan? Sejak kapan kita merencanakan peeunangan. Kata Astuti
Astuti ko PU bapa telah menjodohkan Kita.
Menjodohkan? Sa tidak mau
Kemudian bapa desa meninggalkan Astuti.
......................
Keesokan harinya Ahmad bertemu dengan Astuti mereka berduapun sangat asyik sekali bercerita
Astuti kira-kira ko Pu pacar tipenya seperti apa
Astuti kaget dengan pertanyaan Ahmad
Kamu aneh saja tanya saya seperti itu. Memangnya kenapa eee? tanya Astuti
Ahmad hanya terdiam lalu Astuti mendesak hingga akhirnya dia terjatuh dan di peluk oleh Ahmad mereka berduapun saling beradu pandang dengan penuh senyuman yang berbahagia.
Tanpa sengaja bapa desa melewati tempat itu dan melihat mereka mereka berdua Ande pun merasa marah dengan Ahmad dan mempunyai niat untuk dengan cepat memulangkan Ahmad dari desanya.
Keesokan harinya Ahmad dipanggil Andre untuk bertemu dengan bapa desa
Ahmad bapa desa memanggil ko
Ada apa? tanya Ahmad
Ko pergi ketemu saja
Kemudian Ahmad segera menemui bapa Ande diruangannya
Ada apa bapa? Saya ada salah
Tidak ada Ahmad. Saya hanya mau memberikan surat ini. Sambil menyodorkan surat
Ini apa bapa? tanya Ahmad
Itu surat penilaian kamu sa sudah kasih ko nilai A dan kamu perlu berterima kasih karena sa kasi ko nilai A
Adu bapa saya masih belum puas untuk melakukan KKN didesa ini
Tolong jelaskan sa salah apa?
Ko terima saja itu surat dan segera pergi dari tempat ini! Ucap Ande
Ande pun meninggalkan Ahmad
Dengan penuh perasaan sedih Ahmad meninggalkan ruangan itu dan pergi ke penginapan untuk membereskan perlengkapan dan kemudian pergi meninggalkan desa itu.
Sekian ........
Komentar
Posting Komentar